“Pertanyaan paling penting adalah bagaimana setelah beberapa ratus tahun seni dan budaya di Jogja masih kuat? Apa itu mistik, diajarin di sekolah kah? Atau dari manusia sendiri atau berasal dari dunia Kraton. Saya enggak berani menjawab. Karena itu saya minta mereka mendatangkan pelakunya langsung. Supaya bisa melihat sendiri,” tutur Robert.
Pria yang lahir di Manado ini menambahkan, pementasan di Museum Louvre Abu Dhabi bisa menjadi diplomasi budaya untuk mengenalkan Indonesia, dan Jogja khususnya. Ia mengatakan sebagian orang di Abu Dhabi dan Dubai sangat antusias ingin menyaksikan tarian Jogja, sebab mereka belum pernah menyaksikan seni dari Bumi Mataram.
“Setelah ini saya ingin mengundang beberapa akademisi untuk menjelaskan seni Jawa. Tahun depan, orang Abu Dhabi akan saya bawa ke sini, untuk menyaksikan langsung kehidupan Jogja. Di mana di dalam Kraton peraturannya masih sangat ketat dan masyarakatnya cenderung bebas,” jelasnya.






